Puncak Hati

Heart to Heart

ANAK JALANAN

ANAK JALANAN


Anak jalanan tinggal di jalanan karena dicampakkan ataupun tercampak dari keluarga yang tidak mampu, menanggung beban karena kemiskinan dan kehancuran keluarganya.Umumnya anak jalanan bekerja sebagi pengamen, pengasong, pemulung, tukang semir, ataupun pengais sampah. Tidak mengalami kecelakaan lalu lintas, pemerasan, perkelahian, dan kekerasan lain. 

Anak jalanan lebih mudah tertular kebiasaan tidak sehat terutama dari kultur jalanan, khususnya seks dan penyalah gunaan obat. Lebih memprihatinkan lagi lingkungan akan mendorong anak jalanan menjadi obyek sosial. 

Dengan kata lain bahwa di jalan rawan terhadap gangguan kesehatan baik fisik maupun mental yakni merubah karakter menjadi anak yang beringas, sangat aggresif, suka baku hantam, usil, berani memprotes, suka berbicara seenaknya yang disertai dengan kata-kata kotor, perilaku lain yang muncul pada anak-anak jalanan adalah berusaha mencari uang dengan cara apaapun sehingga sering berganti pekerjaan, termasuk pekerjaan yang tidak terpuji misalnya: mencopet, merampas, menodong. Mereka juga sering rawan terhadap obat-obatan terlarang, minum-minuman keras dan zat-zat aditif lainnya, serta mobilitasnya sangat tinggi.


Landasan Hukum Mengenai Anak Jalanan

Terdapat beberapa peraturan pemerintah terkait dengan upaya penanganan anak jalanan ataupun pemulihan keberfungsian hak-hak anak yaitu:

Anak-anak dilindungi oleh Konvensi Hak Anak (KHA),dimana KHA merupakan yang mengikat secara yuridis dan politis diantara berbagai negara yang mengatur hak-hak yang berhubungan dengan anak.Indonesia adalah negara yang meratifikasi KHA yang dinyatakan dalam Keppres No.36/ 1990 tertanggal 25 Agustus 1990. 

Terdapat empat prinsip yang terkandung dalam KHA, yaitu : Non diskriminasi, yang terbaik bagi anak, kelangsungan hidup dan perkembangan anak, dan penghargaan terhadap pendapatan anak. Selain itu terdapat peraturan hukum lainnya yang mengatur permasalahan anak jalanan, yaitu sebagai berikut:

  1. Undang-undang Dasar tahun 1945, setiap anak berhak atas kelangsungan hidup Tumbuh dan berkembang,serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi (pasal 28 B ayat 2)
  2. Undang-undang Nomor 4 tahun 1979 tengang Kesejahteraan Anak
  3. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002, tentang Perlindungan Anak
  4. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 Tentang Kesejahteraan Sosial
  5. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 1990 Tentang Pengesahan Convention On The Rights Of The Child (Konvensi Tentang Hak-Hak Anak)
  6. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2002 Tentang Rencana Aksi Nasional Penghapusan Eksploitasi Seksual Komersial Anak.
  7. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 88 Tahun 2002 Tentang Rencana Aksi Nasional Penghapusan Perdagangan (Trafiking) Perempuan Dan Anak


Faktor Meningkatnya Anak Jalanan di Kota Besar

Jumlah anak jalanan di kota besar yang semakin meningkat, merupakan masalah serius yang harus ditanganani oleh pihak pemerintah. Banyak faktor yang menyebabkan meningkatnya jumlah anak jalanan di kota besar. Hasil penelitian Hening Budiyawati, dkk. (dalam Odi Shalahudin, 2000 : 11) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan anak pergi ke jalanan berdasarkan alasan dan penuturan mereka yaitu sebagai berikut :

  1. Kemiskinan
    Sebagian besar masyarakat Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan. Padahal kemiskinan merupakan salah satu faktor penyebab meningkatnya jumlah anak jalanan di kota besar. Karena hidup dalam kemiskinan, anak-anak yang seharusnya mengenyam pendidikan di bangku sekolah terpaksa putus sekolah.

    Orang tua mereka tidak sanggup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari apalagi untuk membiayai anaknya bersekolah.Anak-anaknya terpaksa turun ke jalanan, untuk membantu orang tuanya. Mereka berprofesi sebagai pengamen, penjual koran, pemulung, pengemis, maupun pencopet.
  2. Keluarga yang tidak harmonisKeluarga adalah media sosialisasi primer atau yang utama. Peran keluarga sangatlah penting bagi pola pikir dan perilaku anak. Keluarga yang harmonis menghasilkan anak dengan kepribadian yang baik Sebaliknya dengan keluarga yang tidak harmonis, tentu saja akan menghasilkan anak yang tidak baik.

    Anak yang sudah tidak nyaman untuk tinggal di rumahnya sendiri, akan nekat kabur dari rumah. Karena mereka di luar sana tidak mempunyai tujuan yang jelas, mau tidak mau ia berprofesi sebagai anak jalanan untuk menyambung hidupnya.
  3. Pengaruh temanSelain di rumah, kita juga bersosialisasi dengan teman sekitar kita, di sekolah maupun luar sekolah.Teman mempunyai andil yang besar terhadap kepribadian kita.Jika kita berteman dengan orang yang senang mabuk-mabukan, mengkonsumsi narkotika, dengan mudah kita bisa terpengaruh untuk melakukan hal tersebut.

    Jika sudah ketagihan, maka merekaakan menghalalkan segala cara untuk mendaptkan barang haram tersebut, salah satunya dengan mencuri di tempat wisata atau keramaian kota yang penuh sesak dengan orang.
  4. Keinginan untuk memiliki uang sendiriDi dunia ini tak ada orang yang tidak membutuhkan uang.Uang merupakan alat pembayaran sah untuk membeli sesuatu.Orang bekerja demi mencari uang, dan uang itu mereka gunakan untuk membeli kebutuhan hidupnya maupun keluargnya.

    Faktor inilah yang menyebabkan banyak anak yang tertarik untuk mempunyai uang sendiri. Mereka tidak mau merepotkan orang tuanya maupun orang lain untuk mendapatkan sesuatu hal yang diinginkannya. Tanpa dibekali dengan keahlian khusus, mereka nekat untuk bekerja di jalanan yang panas dan rawan bagi dirinya.
  5. Modernisasi, industrialisasi, migrasi, dan urbanisasiHal-hal semacam inilah juga dapat menyebakan anak –anak turun ke jalanan. Seperti adanya kegiatan urbanisasi yang dilakukan orang-orang desa yang pergi ke kota. Mereka menganggap kalau hidup di kota itu mudah untuk mendapatkan pekerjaan dan akan hidup dengan banyaknya fasilitas.

    Namun tanpa dibekali dengan keahlian khusus, hanya membuat mereka tersisih di kota yang mewah dan megah. Karena uang yang ia bawa kurang, atau habis, membuat mereka harus hidup di bawah kolong jembatan. Untuk menyambung hidupnya, mereka bekerja seadanya di jalanan yang panas dan berdebu.
  6. Orang tua “mengkaryakan” anaknya sebagai sumber ekonomi keluarga.
    Maksud dari pernyataan di atas adalah orang tua yang seharusnya sebagai tulang punggung keluarga dan sekaligus contoh bagi anaknya, malah berlaku semena-mena terhadap anaknya.

    Mereka tidak disuruh untuk bersekolah, melainkan disuruh orang tuanya untuk bekerja di jalanan . Orang tua mereka beranggapan kalau bersekolah itu tidak penting dan tidak akan menghasilkan uang. Hal semacam inilah yang menyebakan adanya anak jalanan di kota besar.
  7. Keinginan untuk bebasHidup bebas merupakan hal yang diinginkan oleh banyak anak remaja. Merekatidak mau dikekang dan hidup dalam aturan yang berlebihan oleh orang tuanya. Anak yang tidak mau hidupnya dikekang, maka mereka akan mencari cara agar bisa keluar dari rumah.

    Prinsip yang tidak baik inilah, yang dapat menyebkan mereka hidup di jalanan, hidup dengan kebebasan tanpa kekangan dari siapapun.
  8. Peran lembaga sosial kemasyarakatan belum maksimal yang berperan dalam partisipasi masyarakat untuk menangani masalah anak jalanan.Peran lembaga kemasyarakatan juga ikut andil demi kesejahteraan anak-anak jalanan. Jika lembaga sosial bisa lebih maksimal dan lebih serius dalam menangani masalah anak jalanan, tentu saja bisa memperkecil jumlah anak jalanan yang ada.

    Untuk menopang kesejahteraan hidup mereka, bisa dilakukan dengan memberikan bantuan secara langsung maupun pendidikan dan keahlian bagi anak jalanan. Namun pada kenyataannya, masih banyak anak miskin atau jalanan yang tidak mendapatkan hak yang sama dengan anak-anak lainnya.


Dampak Meningkatnya Anak Jalanan di Kota Besar

Ada beberapa dampak negatif yang diakibatkan oleh maraknya anak jalanan,. Diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Menjamurnya benih-benih premanisme
    Anak jalanan yang ada di kota-kota besar menimbulkan dampak negatif di lingkungan sekitarnya, misalnya saja menjamurnya benih-benih premanisme. Hal ini bisa terjadi karena mereka mencukupi kebutuhannya dengan cara menganacam, menakut-menakuti orang yang lewat dan meminta uang secara paksa.
  2. Terganggunya kenyaman pemakai jalan rayaJika kita berada di kota-kota besar, kita sering melihat banyak anak jalanan di pinggir jalan. Misalnya saja pada saaat lampu merah, banyak anak jalanan yang mendatangi pemakai jalan raya untuk menawarkan barang dagangannya, ada yang mengamen, dan mengemis. Hal ini tentu saja mengganggu kenyamanan pemakai jalan raya.
  3. Mengganggu keindahan dan ketertiban kotaKeindahan dan ketertiban kota tentu saja didukung oleh banyak hal. Jika banyak anak jalanan yang tinggal di kota menyebabkan keindahan dan ketertiban di kota berkurang. Hal ini bisa terjadi, karena banyak anak jalanan yang hidup di kolong jembatan, pinggiran rel kereta api, atau lingkungan yang kumuh untuk berlindung dari panas dan hujan.
  4. Terbengkalainya pendidikan anak-anak tersebutPendidikan merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan kita. Tanpa adanya ilmu, tentu kita tidak akan bisa menjalani kerasnya hidup ini. Bagi anak yang berusia 6-15 tahun, sebenarnya berhak untuk mengenyam pendidikan. Namun tidak bagi anak jalanan, karena faktor ekonomi keluarga, mereka putus sekolah dan turun ke jalanan untuk bekerja agar bisa bertahan hidup.
  5. Mengundang pola urbanisasi yang tinggi, serta mendorong tindakan- tindakan kriminal di jalan raya.Urbanisasi merupakan perpindahan penduduk dari desa ke kota. Banyak penduduk desa yang berbondong-bondong ke kota untuk mencari pekerjaan. Mereka berpikir mencari pekerjaaan di kota itu mudah.

    Namun pada kenyatannya, tanpa dibekali keterampilan dan keahlian khusus, mereka akan sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Dampak dari adanya anak jalanan yaitu pola urbanisasi yang tinggi Hal ini bisa terjadi karena anak jalanan yang pulang ke kampung asli mengiming-imingi penduduk desa kalau hidup di kota itu enak.
  6. Masa depan bangsa dipertanyakanAnak bangsa merupakan generasi muda penerus bangsa untuk menjadikan bangsa ke arah yang lebih baik. Untuk bisa menjadikan bangsa yang berkualitas, damai, makmur, sejahtera diperlukan penduduk yang berkualitas juga.

    Namun ironisnya, banyak anak bangsa yang seharusnya mengenyam pendidikan malah berprofesi menjadi anak jalanan. Jika jumlah anak jalanan terus bertambah, maka masa depan bangsa ini perlu dipertanyakan.

Didalam kegiatannya, peredaran anak jalan itu tidak berdiri sendiri, melainkan ada suatu lembaga ilegal yang terus mendorong anak jalanan agar terus tumbuh dan berkembang demi keuntungan pribadi semata.

Dimana mereka diajarkan bagaimana meminta-minta, mereka harus memberikan uang setoran kepada “BOS”. Selain itu, tingkat pendidikan yang minim membuat mind set mereka dapat di setting sedemikian rupa oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. 

Dengan beragam iming-iming, mereka perlahan dikeluarkan dari ajaran agamanya. Yang menjadi sasaran, kebanyakan adalah anak-anak usia sekolah dasar. Biasanya anak-anak itu diiming-imingi makanan, uang, janji kehidupan yang lebih baik, janji disekolahkan dan lain lain.

Dari lika-liku kehidupan anak jalanan, dapat disimpulkan bahwa masalah krisis ekonomi dapat memicu masyarakat menjadi kehilangan arah dan tidak terkendali, seperti maraknya anak jalanan.Dimana pekerjaan sebagai anak jalanan menjadi pekerjaan yang wajar karena bagi mereka kehidupan dijalan raya menjadi lahan yang subur untuk mendapatkan uang.

Mereka menganggap bahwa dengan merengek, memelas dan mengamen dijalan raya dapat membuat mereka mendapatkan uang dengan mudah.Dukungan dari orang tua membuat mereka tetap bertahan dengan keadaan seperti ini.Para anak jalanan pun sepertinya bahagia saja menjalani kehidupan tersebut.


Upaya Mengatasi Anak Jalanan di Kota Besar

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi anak jalanan antara lain :

  1. Program Perlindungan AnakPenyediaan dan atau pemberian pelayanan-pelayanan sosial dasar bagi anak, utamanya yang berasal dari keluarga miskin sehingga hak-hak mereka dapat terpenuhi.
  2. Program Rumah SinggahProgram Rumah Singgah kepada anak-anak jalanan merupakan pemberian kesempatan anak untuk memenuhi kebutuhannya dalam hal belajar dan bermain sehingga bisa tumbuh dan berkembang secara optimal dan selaras fisik maupun psikis
  3. Program Pelatihan dan Pemberian Bantuan Modal Usaha bagi Anak JalananProgram ini bertujuan untuk memberi latihan dasar keterampilan bagi anak jalanan dengan tujuan agar anak mampu melakukan usaha ekonomis produktif, misalnya home industri.
  4. Pemberian Layanan Pendidikan GratisProgram ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu membebaskan biaya sekolah bagi anak jalanan di sekolah-sekolah formal yang ditunjuk dan memberikan layanan pendidikan model seperti Perpustakaan Keliling di mana guru yang mendatangi tempat-tempat yang biasanya digunakan anak-anak jalanan untuk berkumpul serta memberikan materi pelajaran di tempat tersebut
  5. Optimalisasi program GNOTA (Gerakan Nasional orang tua asuh)
    GNOTA (Gerakan Nasional orang tua asuh)
    yang berdiri pada tanggal 29 Mei 1996 yang berfungsi untuk meningkatkan kualitas anak sebagai aset penerus bangsa disamping meminimalkan kemiskinan secara komprehensif dan menyeluruh, juga memiliki misi mengembangkan dan meningkatkan kesadaran serta tanggung jawab masyarakat terhadap masa depan anak bangsa.peranan GN-OTA ini dalam Prokesra MPMK dapat dibagi menjadi dua.

    Pertama adalah menuntaskan keluarga pra-sejahtera dan keluarga sejahtera.

    Kedua adalah pemberdayaan keluarga masa depan. Untuk memaksimalkan fungsinya diperlukan kerja keras untuk menyelamatkan generasi penerus bangsa dari ancaman putus sekolah. Dana Boss Bantuan untuk biaya operasional anak – anak dari keluarga tidak mampu meliputi pengadaan buku- buku paket dan bantuan pembiayaan pendidikan yang manfaatnya adalah untuk mengurangi biaya pendidikan yang dikeluarkan siswa,

    Upaya lain yang dilakukan dalam mencegah berkembangnya masalah maupun untuk mengatasi masalah anak putus sekolah tersebut adalah untuk mengembalikan mereka ke sekolah. Program pemerintah yang dapat memperkecil resiko tersebut yang telah dilaksanakan adalah Bantuan tunai melalui program PKH agar para keluarga miskin mau kembali menyekolahkan anak- anaknya.
  6. Upaya penanganan masalah kemiskinanDapat dilakukan dengan cara penyediaan fasilitas umum dan sosial kepada masyarakat kurang mampu, program penyelamatan, program penciptaan lapangan kerja, program pemberdayaan, jaminan sosial dan program beasiswa bagi siswa yang berasal dari keluarga yang tidak mampu.

Sumber : http://saveanakjalnan.blogspot.co.id/



No comments:

Post a Comment

loading...